Sabtu, 12 Februari 2011

Menggali Sejarah Jawa Lewat Buku

Novel-novel berdasarkan sejarah kembali marak. Selain buku karya Aan Merdeka Permana dan Langit Kresna Hariadi yang sudah populer, sudah terbit pula Ken Arok Ken Dedes (Ircisod, 2008) karya Wawan Susetya dan Pendekar Sendang Drajat (Pustaka Alvabet, 2009) karya Viddy AD Daery yang kental dengan silat.

Tapi, salah satu pengarang yang produktif membanjiri rak-rak di toko buku dengan fiksi sejarah itu adalah Gamal Komandoko. Selama ini pengarang kelahiran Solo ini menulis banyak dongeng anak-anak. Kini dalam dua tahun terakhir dia setidaknya telah menerbitkan lima novel yang mengambil latar sejarah Jawa dan Madura. Berikut ini beberapa dari karya itu.
Jaka Tingkir: Jalan Berliku Menjemput Wahyu

Novel setebal 411 halaman yang diterbitkan oleh Diva Press ini menceritakan perjuangan Raden Mas Karebet atau yang lebih dikenal dengan Jaka Tingkir untuk menjemput takdirnya menjadi "tiang utama tanah Jawa". Ceritanya berkutat dengan pergulatan Jaka Tingkir untuk menjemput wahyunya menjadi raja di tanah Jawa.

Novel ini dimulai dengan kisah ayah Karebet, Kebo Kenongo alias Ki Ageng Pengging, yang tak lain adalah cucu dari Brawijaya, penguasa Majapahit terakhir. Kebo Kenongo dihabisi oleh penguasa Kesultanan Demak, yang kala itu dipimpin Raden Patah, karena khawatir akan pengaruhnya.

Setelah ditinggal kedua orang tuanya, masa kecil dan remaja Karebet kemudian banyak dihabiskan di Dusun Tingkir, sehingga dia lebih dikenal dengan Jaka Tingkir. Setelah menimba ilmu dari sahabat-sahabat ayahnya, Jaka Tingkir kemudian mengabdi ke Kesultanan Demak.

Karena kesaktianya, Jaka Tingkir menjadi prajurit pilihan Sultan Trenggono dan bahkan dijadikan anak angkat. Namun, akibat konflik dengan Dadung Awuk, Jaka Tingkir kemudian tersingkir dari istana.

Pergi dari istana, Jaka Tingkir kemudian berkelana memperdalam ilmu kanuragannya. Takdir membawanya kembali diterima istana setelah ia berhasil menjinakkan kerbau liar yang memporakporandakan kerajaan. Sultan Trenggono lantas menjodohkan Jaka Tingkir dengan putri keempatnya, Retno Ayu Ratu Mas Cepaka, dan memberi tanah di Pajang. Jaka Tingkir kemudian menjadi Adipati Pajang dengan gelar Hadiwijaya.

Cerita kemudian berlanjut dalam kemelut perebutan pucuk kekuasaan di Demak setelah Sultan Trenggono wafat. Intrik-intrik berlanjut dengan upaya Adipati Jipang Panolang Arya Penangsang, Putra Sultan Trenggana Prawata dan Jaka Tingkir alias Hadiwijaya berebut menjadi penguasa Demak.

Arya Penangsang yang ambisius kemudian melenyapkan Sunan Prawata. Adik Sunan Prawata, Ratu Kalinyamat, menuntut balas, tapi seluruh pengikutnya malah dihabisi. Melihat kenyataan pahit tersebut, Ratu Kalinyamat melakukan tapa telanjang di bukit Danaraja dan mengucapkan sumpah: “Aku tidak akan mengenakan pakaian kembali seumur hidupku hingga Aryo Penangsang mati! Siapa pun juga yang mampu menewaskan Aryo Penangsang, ia akan menerima pengabdianku dan seluruh harta kekayaanku.�

Di sinilah Jaka Tingkir kemudian muncul dan melenyapkan Arya Penangsang dengan bantuan Ki Ageng Pemanahan dan anak angkatnya, Sutawijaya. Setelah Arya Penangsang lenyap dan direstui Ratu Kalinyamat, akhirnya Jaka Tingkir menjadikan Pajang sebagai kerajaan baru di tanah Jawa dan dirinya bergelar Sultan Hadiwijaya.

Panembahan Senopati

Kelanjutan dari Jaka Tingkir ini menceritakan sepak terjang Jaka Tingkir ketika telah menjadi raja dan bergelar Sultan Hadiwijaya dan dilanjutkan dengan kisah anak angkatnya, Sutawijaya, yang kemudian meneruskan wahyu yang bersemayam dalam dirinya untuk menjadi tiang utama tanah Jawa. Tokoh agung tersebut tak lain adalah Panembahan Senopati nama lain Sutawijaya.

Sutawijaya kemudian mendirikan kerajaan di Mataram yang menenggelamkan kerajaan Pajang yang notabene dipimpin oleh ayahnya sendiri. Sesuai dengan wirayatuya (ramalan) Kanjeng Sunan Giri yang menyebutkan bakal terbitnya matahari perkasa di tanah Mataram, maka Panembahan Senapati kemudian memimpin kerajaan baru di tanah Jawa yang bernama Mataram.

Berkat perjuangan, kesabaran, kecerdasan, dan gelora hatinya dalam menyongsong "takdirnya", akhirnya Panembahan Senopati berjaya dan Mataram menjadi kerajaan yang memimpin tanah Jawa setelah Demak dan Pajang.

Trunojoyo: Sang Pendobrak

Kisah novel ini dimulai setelah kematian Sultan Agung yang membawa Kerajaan Mataram mencapai puncak kejayaanya. Setelah periode Sultan Agung, kepemimpinan Mataram jatuh ke tangan putra tertuanya, Sunan Amangkurat. Tidak seperti ayahnya yang terkenal ambisius dan antikompeni, Sunan Amangkurat berbeda 180 derajat. Ia adalah raja yang gemar bersenang-senang. Dia bahkan membuka hubungan baik dengan VOC, kejam terhadap rakyatnya, dan dinilai tidak punya itikad menjaga kekuasaan Mataram.

Akhirnya pada 1670, pemberontakan terhadap kerajaan Mataram mulai muncul. Trunojoyo, seorang putra Madura, mempengaruhi rakyat Madura untuk berhenti menyetor upeti ke Mataram. Perlawanan terhadap Mataram dan Sunan Amangkurat pun dimulai.

Tidak hanya memimpin rakyatnya sendiri, Trunojoyo juga mengajak daerah lain untuk memerdekakan diri sendiri. Hasilnya, mulai dari Blambangan, Surabaya, Tuban, sampai Pasedahan (Pasuruan) bersatu melawan Mataram.

Sunan Amangkurat pun kalang kabut. Dengan segenap cara, dia berusaha mempertahankan kerajaannya. Tapi, karena terdesak, Amangkurat dan keluarganya mengungsi ke daerah lain, meninggalkan istananya di Plered, Bantul. Dalam pelariannya, Amangkurat meninggal dan mewariskan tahtanya kepada putra tertua, Adipati Anom, yang kemudian bergelar Sunan Amangkurat Senapati ing Alaga.

Keseluruhan isi cerita fokus pada pertempuran Trunojoyo dan Senapati ing Alaga. Untuk menambah kekuatan Mataram, Senapati ing Alaga meminta bantuan kepada VOC. Akhirnya, pertempuran sengit antara pasukan Mataram, VOC, dan Madura pecah di Kediri.

Ken Arok: Banjir Darah di Tumapel

Ini adalah novel karya Gamal lainya yang diterbitkan oleh Narasi pada Mei 2008. Kisah novel setebal 336 halaman itu sudah bisa ditebak: perjuangan Ken Arok mendirikan Singasari.

Ken Arok, anak yang dibuang ibunya karena tidak jelas siapa ayahnya, diasuh oleh bromocorah dan penjudi. Kemudian ia menjadi maling paling tenar di Tumapel, yang kemudian insyaf dan menjadi prajurit di bawah bimbingan Brahmana Lohgawe.

Ken Arok kemudian merebut tahta Tumapel setelah menghabisi Tunggul Ametung dan mempersunting istrinya, Ken Dedes. Ken Dedes, wanita yang menurunkan raja-raja di tanah Jawa, kemudian menularkan wahyu keprabon kepada Ken Arok, yang akhirnya mengkudeta Kediri dan mendirikan Kerajaan Singasari.

Sangrama Wijaya

Novel Sangrama Wijaya: Babad Ksatria Agung Pendiri Majapahit ini bercerita era runtuhnya Singasari. Sanggrama Wijaya, yang juga dikenal dengan nama Raden Wijaya, merupakan menantu Raja Singasari, Sri Kertanegara, yang melarikan diri ketika tahta Singasari diruntuhkan Jayakatwang, penguasa Kediri.

Ia kemudian memperjuangkan pengembalian kejayaan klan Ken Arok di tanah Jawa dengan mendirikan kerajaan baru yang kemudian dikenal dengan Majapahit. Majapahit kelak menjadi kerajaan terbesar di Nusantara. Sepak terjang Sanggrama Wijaya dalam membangun perdikan Tarik menjadi Majapahit menjadi fokus cerita novel ini.

Gunanto ES

Pendekar Sendang Drajat

Pernahkan nama Tenggulun (Trenggulun) dibincangkan orang sebegitu heboh, bahkan di tingkat intenasional, sebelum tragedi bom Bali 2002? Tidak, tentu saja. Tenggulun sampai kini pun masih tetap sebuah desa yang cukup terpencil dari jalur ekonomi utama Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Desa itu kini bagian dari Kecamatan Selokuro, pemekaran dari Kecamatan Paciran.

Di suatu masa menjelang punahnya kejayaan Mahapahit pada abad ke-16, terbetik kabar sekelompok pesilat muda meluruk wilayah Pringgoboyo. Dengan garang, mereka membantai habis rombongan pendatang dari Eropa saat menyusuri anak sungai Bengawan Solo dengan perahu Portugis. Para pesilat itu adalah abdi wilayah perdikan Trenggulun, yang kala itu dikenal sebagai salah satu kantong perlawanan garis keras terhadap sisa-sisa kekuasaan Majapahit.

Kisah itu memang tak ada dalam buku-buku pelajaran sejarah. Kisah itu hanyalah sebuah fragmen dalam novel berjudul Pendekar Sendang Drajat, Pesisir Utara Majapahit di Abad ke-16 (Pustaka Alvabet, Juni 2009) karya Viddy AD Daery.

Pendekar bernama asli Raden Ahmad itu adalah cucu Sunan Drajat dan Sunan Sendang Duwur. Dia anak seorang kyai pengasuh pesantren terkenal, tapi namanya lebih terkenal di rimba persilatan sebagai penumpas kejahatan, walau dalam pengembaraannya dia juga rajin berdakwah.

Dalam kata pengantarnya, sang penulis, Viddy AD Daery, berterus terang bahwa mula-mula novel ini ditulisnya dengan lebih banyak mengandalkan cerita turun-temurun leluhur, ditambah sedikit data sejarah. Selebihnya adalah imajinasi “bonek� alias bondo nekat (modal nekat).

Namun, belakangan dia memeroleh data-data sejarah yang “ternyata tidak bertabrakan� dengan hasil imajinasinya, dan akhirnya memperkaya novelnya. Jadi, jelas bahwa Viddy memaklumkan novel silat ini sebagai novel sejarah.

Anda boleh setuju, boleh tidak. Tapi, bagi penyuka novel silat, yang telah cukup lama sepi dari karya baru, novel ini adalah pelepas dahaga yang layak direguk. Drama konflik khas dunia persilatan yang diwarnai dendam, persaingan dan adu ilmu kanuragan itu juga dibumbui kisah asmara. Viddy berhasil mengalirkan semua itu dengan penuturan yang membuai.

Pun, bagi Anda yang melirik novel ini karena genre sejarahnya, maka Anda akan terenyak menatap sebuah potret geopolitik Pamotan-Tuban (kini Lamongan) di pengujung masa Majapahit. Banyak desa kecil di Lamongan, yang kini hanya bisa masuk koran atau televisi bila luapan Bengawan Solo menyapunya, dulunya adalah pusat-pusat ekonomi yang telah berinteraksi intensif dengan mancanegara. Bahkan, anak sungai Bengawan Solo pun disinggahi perahu-perahu saudagar dari jazirah Arab, Persia, Gujarat (India), dan Portugis.

Lamongan di masa itu menjadi benteng utara Majapahit dalam menghadapi musuh dari arah Laut Jawa. Lamongan juga menjadi andalan Majapahit dalam hal produksi senjata (keris), perhiasan dan aneka kerajinan lain yang berkualitas tinggi. Tapi, di Lamongan pula berkembang gerakan politik untuk melawan penindasan terhadap rakyat oleh penguasa lokal, yang kian menjadi-jadi seiring kian lemahnya pemerintahan pusat Majapahit.

Novel Viddy memang bukan buku pelajaran sejarah. Tapi, seperti kata Langit Kresna Hariadi, penulis pentalogi Gajah Mada, “Novel ini menempatkan kita lebih mudah belajar sejarah tanpa berniat belajar sejarah.�

disarikan dari :Tempo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kiat Menuliskan Laporan Perjalanan

Kita semua pasti pernah melakukan perjalanan, entah ke luar kota, entah ke mancanegara, entah ke kutub selatan dan utara, atau cuma meneng...